Empat yang Tersisa
Empat topeng—lingkaran, segitiga, spiral, garis miring ganda—membagi Anya, Jo, Helen, Marga ke koridor ujian masing-masing; tuas dan cincin membuka sumur menuju terowongan bawah pendopo. Helen tersedot panel samping (menghilang), Yosi terperosok panel lantai di atas (menghilang), sementara Anya–Jo–Marga meniti terowongan cermin hingga menyelinap ke belakang panggung sebelum kembali sembunyi: angka “tiga” hanyalah jeda, bukan keselamatan.
Pagi tidak datang dengan cahaya—ia datang sebagai kelelahan yang menua. Setelah malam yang dipaku oleh suara yang tidak akan pernah mereka lupakan, kamp terasa seperti ruangan besar yang sengaja disapu bersih dari kata-kata. Bambu basah, pasir dingin, obor yang tinggal arang. Di kandang, tidak ada yang menyebut nama Hendro. Nama itu berjalan sendiri di dalam dada mereka, menabrak dinding, lalu duduk.
Anya duduk paling dekat jeruji, telapak tangan menyentuh bilah bambu yang masih menyimpan dingin fajar. Marga di sampingnya, menambal napas dengan tenang yang ia pinjam entah dari mana. Jo berdiri, punggung ke dinding, tatapan kosongnya tidak memandang apa-apa—kekosongan itu, justru, yang paling penuh. Helen bersandar pada tiang sudut; pita merah di pergelangan tampak terlalu rapi untuk kamp seperti ini. Yosi menunduk, kacamata bergeser setengah milimeter ke bawah; ia dorong dengan telunjuk, gerak kecil yang seperti ritual agar tangan ingat tugasnya.
Pintu kandang dibuka lebih awal. Empat penjaga masuk. Salah satunya membawa baki kayu. Di atasnya: empat topeng kayu hitam, ukuran wajah manusia, dengan garis-garis putih yang membentuk simbol berbeda—lingkaran, segitiga, spiral, dan garis miring ganda. Matanya berlubang; bagian mulutnya dicungkil, meninggalkan senyum yang tidak diminta. Di sisi topeng, tali kulit kusam.
Penjaga mengangkat satu topeng—spiral—mendekat ke kandang. Dengan gerakan singkat, ia menunjuk empat orang. Tangannya bergerak tanpa ragu, seperti orang yang sudah menghafal daftar: Jo. Anya. Marga. Helen. Yosi tertahan di baris belakang; telunjuk penjaga hampir menunjuknya—lalu berpindah ke Helen. Perubahan kecil yang tidak punya alasan.
“Kenapa empat?” Jo bertanya, suara seraknya seperti batu jatuh di air dangkal.
Penjaga tidak menjawab. Ia hanya menyelipkan topeng ke balik jeruji. “Pakai,” perintahnya dengan bahasa yang tidak jelas tapi bisa. Dua penjaga lain menyingkirkan tombak, memberi ruang. Yang satu mengangkat lonceng besi kecil. Sekali dentang, suara itu masuk ke telinga seperti air yang es.
Anya meraih topeng lingkaran. Kayunya dingin. Bau resin tua menyusup ke rongga hidung. Marga mengambil garis miring ganda, tangannya steady. Jo mencomot segitiga—paling tajam; seperti mengerti. Helen menatap spiral yang tersisa, senyum tipis menyentuh bibirnya, entah karena simbol itu kebetulan pas dengannya, entah karena ia percaya segala sesuatu adalah cermin jika diperhatikan cukup lama. Ia memasangnya paling akhir, memperbaiki letak tali di belakang kepala, rapi, seperti selalu.
Mereka digiring keluar. Yosi ikut di belakang rombongan—bukan dipilih, tapi tetap diseret bersama yang lain, entah sebagai saksi, entah sebagai barang. Jalan setapak membelah kabut yang masih malas naik. Mereka melewati altar yang padam—mengeluarkan bau kayu hangus—lalu memasuki bangunan dari kayu gelap yang belum pernah mereka lihat: pendopo bundar, tanpa dinding, atapnya rendah, tiang-tiangnya lebih gemuk dari tiang di tempat lain. Lantai kayu disapu bersih. Di tengah, ada lingkaran dari batu kecil; di dalamnya, sebuah pintu lantai kayu yang tertutup rapat, kunci besi menyilang. Di sekeliling lingkaran, empat pintu sempit berhadapan, masing-masing di atasnya tergantung simbol—lingkaran, segitiga, spiral, garis miring ganda—sama seperti di topeng.
Seorang penjaga memukul gong kecil sekali. Suaranya tidak keras, tapi panjang. Pemimpin mereka—yang bercat putih-hitam lebih tebal dari yang lain—melangkah ke tengah, mengangkat telapak kanan, kemudian menunjuk pintu-pintu dengan urutan tertentu: lingkaran dulu, lalu segitiga, lalu spiral, lalu garis miring ganda. Isyaratnya sederhana dan kejam: masuk sesuai tanda.
“Permainan lagi,” gumam Jo, menoleh sekilas ke Anya. Anya mengangguk—aku tahu—dan itulah semua kata yang sanggup.
Mereka berdiri di depan pintu masing-masing. Anya di bawah simbol lingkaran; Jo di segitiga; Helen di spiral; Marga di garis miring ganda. Di atas kepala mereka, tali kulit tipis tergantung seperti jemuran, ujungnya masuk celah langit-langit, menyambung entah ke mana. Yosi ditahan dua penjaga di luar lingkaran batu, cukup dekat untuk melihat, cukup jauh untuk tidak menjangkau.
“Jangan buru-buru,” Marga mengingatkan, suaranya senyap. “Lihat lantainya. Ada garis… di sini.” Ia menunjuk celah tipis tak wajar di antara dua papan, tepat di satu langkah setelah ambang pintu. Jo mengangguk cepat; mata panas tidak mematikan pikiran.
Anya meraba talinya, memastikan simpul topeng tidak goyah. Nafas masuk. Keluar. Ia menatap punggung tangannya—ada garis merah tua yang makin pudar. Simpan kata, simpan tenaga. Ia melangkah.
Koridor lingkaran milik Anya sempit dan panjang. Dinding kayu menguarkan bau minyak yang membuat kepala sedikit ringan. Di lantai, cap-cap lingkaran seukuran telapak kaki dicat merah pudar, jaraknya tak teratur. Di dinding, lubang-lubang kecil setinggi dada—seperti mata yang terpejam. Anya melangkah di atas cap-cap lingkaran; tiap kali telapak kakinya tepat di pusat, terdengar bunyi tek halus di bawah papan—semacam klik yang tidak menyakitkan. Ketika ia luput, dari lubang dekat telinganya keluar hembus angin dingin yang membawa debu halus—cukup untuk membuatnya batuk jika lalai. Ikuti tanda. Dengarkan tubuh.
Koridor segitiga milik Jo lebih jahat. Di lantai, segitiga-segitiga kecil diukir terbalik. Dindingnya lebih rapat, hawa lebih kering. Untuk tiap segitiga yang diinjak—benar—ada getar tipis, seperti mesin tua bangun. Ketika Jo memilih segitiga yang terlihat paling masuk akal, dari langit-langit turun tali mekanik menyapu kaki—mencobanya untuk tersandung. Ia memaki, melompat. Jangan percaya mata, percaya berat. Ia menurunkan pusat gravitasi, melangkah lebih rendah, membiarkan kakinya mencari segitiga yang menolak—yang tidak terlihat jelas. Benar. Klik. Ia maju.
Koridor spiral milik Helen adalah cermin dua arah. Lantainya licin dengan minyak yang dioles tipis, hampir tak terlihat. Dinding di kiri-kanan dipasang cermin kusam—bukan kaca, melainkan logam yang dipoles hingga memantul samar. Di cermin, Helen melihat dirinya berkali-kali, wajahnya pecah oleh gores; bagi orang yang tidak mengenal dirinya, ini bisa membuat panik. Helen tidak. Ia melangkah dengan tumit dulu, lalu ujung jari, menjaga ritme, menatap di luar bahunya sendiri. Di sudut, ruang tampak memendek—cermin membohongi jarak—dan di situ ada lubang kecil setinggi perut. Helen menahan napas, tidak menuju lubang, tapi memutari lewat sisi yang tampak lebih sempit. Ia benar. Di lubang itu, sehembus gas yang nyaris tak berbau keluar singkat; ia menunggu, lewat setelahnya. Tali kulit di atap koridor ini bergerak—cek—seperti persneling yang dipindah. Helen mengangkat dagu sedikit, sinis pada benda mati.
Koridor garis miring ganda milik Marga diatur seperti partitur. Di lantai, dua baris garis miring berulang—/ / / /—tiap segmen ada ruang kosong selebar telapak kaki. Di dinding, paku kecil menonjol, seperti titik-titik braille yang malas. Ketika Marga melangkah di ruang kosong seiring dengan detak gong halus yang entah datang dari mana, paku di dinding menarik mundur. Ketika ia salah ritme, paku muncul setengah, menggores lengan. Ia ulang ritme—menyelaraskan langkah dengan suara jauh yang tidak setiap telinga bisa dengar. Satu-dua… satu-dua-tiga…—barisan paku berhenti menggoda. Ia melewati bagian pertama.
Mereka tidak saling lihat, tapi mereka tahu—dengan cara orang-orang yang dibentuk tempat sama—bahwa yang lain masih bernafas. Di tiap koridor, ada panel kayu kecil dengan lubang suara. Dari lubang itu, sesekali muncul bunyi yang sengaja: potongan tawa Vino; seruan Arya; panggilan pendek Bimo; isakan Yolanda. Anya memejamkan mata sepersekian ketika mendengar tawa yang meminjam napas Vino, lalu membuka lagi—jangan percayai suara; ia bagian tempat ini.
Di ujung koridor, masing-masing menemukan ruang kecil. Di dinding depan ada tuas besi pendek dengan simbol yang sama seperti topeng. Di bawah tuas, tiga lubang kunci berjajar. Di lantai, sebuah kotak kayu setinggi lutut dengan tutup setengah terbuka.
Anya membuka kotak: di dalam, tiga cincin besi dengan lambang lingkaran. Tiga, bukan empat. Di sisi dalam tutup, tulisan tak mereka mengerti; di bawahnya, gambar tangan yang mengenakan cincin. Pilih tiga. Ia menelan. Tiga apa? Tiga siapa?
Di kotak Jo, tiga cincin segitiga. Di kotak Helen, tiga cincin spiral. Di kotak Marga, tiga cincin garis miring ganda. Di tiap ruangan ada lubang suara yang kini berbisik nyaris bertempo: tiga.
Anya memandangi cincin-cincin itu. Gelap kayu, dingin besi, napas sendiri. Kalau ini permainan untuk mengurangi, tempat ini ingin mereka melakukannya sendiri. Ia menutup mata, mendengar detak. Kita dari empat pintu berbeda. Tiga cincin—tiga lubang kunci. Ia menatap tuas. Jika tiga pintu memutar tuas dan satu tidak—apa yang terjadi pada yang tidak?
Jo menendang kotaknya—pelan—menguji suara. Di balik dinding, ada sesuatu yang merespon: getar, bukan ancaman jelas. Ia memikirkan hal yang tidak pernah ia ajarkan pada dirinya: menahan. Tiga cincin. Siapa? Lidahnya ingin menyebut namanya sendiri sebagai bagian yang harus ikut—bukan karena sombong, tapi karena rasa bersalah berbentuk demikian di orang sepertinya. Namun ia menahan lidah di bawah gigi.
Helen tidak menatap cincin lama-lama. Ia tahu, permainan paling kejam adalah yang mengaku memberikan pilihan. Ia membuka topeng sebentar—setengah—mengembalikan oksigen ke wajah, lalu memasangnya lagi. Tiga. Yang satu… Ia menyapukan pandang ke dinding. Ada sesuatu di atas kusen ruangan: tali kulit yang tersambung ke mekanisme kecil. Ia berdiri di bawahnya, mengukur. Sistem seperti ini biasanya tidak membunuh cepat. Sistem seperti ini bekerja dengan panggung.
Marga berdiri tegak. Di dalam kepalanya, matematika mengambil bentuk yang tidak ia sukai: kombinasi. Empat orang, tiga cincin. Ada satu yang harus tidak memutar tuas. Kalau satu tidak memutar, mekanisme ke-berapa yang aktif? Ia tidak punya angka. Ia punya rasa: jangan beri makan permainan ini dengan logika mereka; beri makan dengan kita. Ia mengangkat lubang suara. “Anya,” panggilnya lirih. “Kalau kamu dengar… apapun yang terjadi, pegang dinding. Jangan lepas.”
Suara Marga sampai ke Anya sebagai desis tipis yang lewat punggung. “Aku dengar,” balas Anya setenang yang dia bisa. “Kamu juga.”
Jo mengetuk lubang suara. “Kita lakukan bareng,” katanya. “Hitungan ketiga.” Helen tertawa tipis—tidak terdengar, tapi terasa. Bareng, kata yang lucu untuk ruangan yang menyusun jarak.
Mereka memasang tiga cincin ke tiga lubang kunci—masing-masing ruangan. Satu lubang dibiarkan kosong. Mereka tidak tahu siapa yang akan jadi kosong—kecuali satu: Helen memutuskan diam-diam untuk meninggalkan satu lubang tidak terisi di ruangnya sendiri. Bukan karena ingin selamat sendiri. Justru karena ia tahu permainan menyukai keangkuhan. Ia memilih membocorkan satu variabel: biarkan aku yang kosong, lihat apa yang kalian lakukan terhadapku.
“Hitung,” kata Jo. “Satu.” Napas mereka menahan. “Dua.” Handuk waktu diperas. “Tiga.”
Tuas ditarik.
Lantai bergetar. Dari atas, tali kulit berdenyut. Pintu lantai di tengah pendopo membuka diri—pelat kayu ditarik ke dua sisi, memperlihatkan sumur gelap dengan tangga tali yang turun jauh. Di saat yang sama, dua dari empat ruangan—Anya dan Marga—mendengar bunyi klik manis seperti gembok kecil yang membuka. Pintu keluar di sisi ruangan mereka terbuka selebar bahu, melahirkan koridor pendek memancar ke pendopo.
Di ruang Jo, pintu terkunci setengah, seperti ragu. Ia mendorong—keras—pintu menyerah. Ia keluar, melompat ke pendopo, matanya mencari cepat.
Di ruang Helen, langit-langit retak sedikit, seperti bibir yang akan tersenyum. Dari celah itu, turun hujan jarum kayu pendek—tajam, bukan mematikan. Helen menunduk, melindungi tengkuk. Jarum menghantam lantai, bahu, punggung—sakitnya nyata, tapi tidak akhir. Pintu keluarnya tidak terbuka. Dari dinding, tali kecil menjerat pergelangan Helen—cepat, rapi—lalu menariknya ke samping, membuka panel tersembunyi, menelan tubuhnya ke ruang lain.
“HELEN!” Anya muncul pertama dari koridornya, melihat panel menutup. “HELEN!” suaranya memantul ke tiang.
Jo menyeruak ke tengah. “Ke mana dia ditarik?!”
Penjaga di pinggir pendopo bersorak, bukan heboh, tapi cukup. Pemimpin mengangkat telapak—lanjutkan. Di lantai, sumur yang terbuka mengeluarkan udara dingin yang berbau logam lembap. Di bibir sumur, ada tiga cincin besi yang sama seperti di kotak—tiga, bukan empat—menempel pada ujung tali yang diikat ke tiang. Seolah-olah tempat itu berkata: yang memilih, turun.
Marga keluar dari koridornya, wajahnya pucat tapi mata fokus. “Anya,” sapanya cepat—ada, kamu ada—lalu menoleh ke sumur. “Mungkin ini jalan keluar.”
“Atau jalan makan,” sahut Jo. “Tapi kapan kita pilih keluar yang ramah?” Ia meraih satu cincin. “Tiga orang. Oke. Tiga berarti—”
“Yosi ikut!” Anya berseru tiba-tiba. Yosi berdiri di luar lingkaran, dipegang dua penjaga. Matanya menatap sumur dengan campuran takut dan tertarik—campuran orang yang melihat laut pertama kali. “Dia dengan kita.”
Jo menoleh, mulutnya membuka untuk kata-kata yang biasa—lalu tidak jadi. Sisa semalam membuatnya berbeda. “Empat cincin,” gerutunya. “Tapi tiga.” Ia mengangkat cincin ke Yosi. Penjaga mencegat. Pemimpin menggeleng pelan. Aturan.
“Kalau aku tidak ikut, tidak apa,” Yosi berkata lirih, pada siapa pun yang sempat mendengar. Anya menatapnya—sepersekian detik ada sesuatu di mata itu: kamu manusia. Ia ingin memaksa, tapi permainan tidak memelihara permintaan baik.
Jo memasang cincin pada tali, menguji kekuatan simpul. Anya menyusul. Marga menyusul. “Kita turun—pelan—lihat dulu,” kata Marga, nada pemimpin yang tidak minta diakui.
Mereka turun bertiga, satu per satu, tubuh menggoyang tali. Sumur itu dingin. Dindingnya kayu tua, dibasahi sesuatu yang tidak satu: air, minyak, darah terlalu tua. Bau logam tipis menempel di langit-langit mulut. Beberapa meter turun, landasan kayu menyambut, tercungkil di sana-sini. Di depan, terbuka terowongan datar. Di langit-langit terowongan, keping-keping cermin kecil tertanam acak, memantulkan cahaya obor dari atas menjadi bintang palsu.
“Pelan,” Anya mengingatkan—tak pada Jo, tak pada Marga, pada dirinya. Ia menyentuh dinding: lembap, tapi kokoh. Jo berjalan di depan, bahu tinggi, siap menyundul apa pun yang turun. Marga di tengah, telinganya menakar jarak antara bunyi langkah mereka—tiga—dan bunyi lain—tidak ada… untuk sekarang.
Di belakang, di pendopo, Yosi menatap ke bawah, mengikuti pergerakan mereka dengan mata. Penjaga mendorongnya lebih menjauh. Yosi bergeser satu langkah—di bawah kakinya, papan yang tampak sama seperti yang lain berayun sedikit. Ia menahan—terlambat. Papan itu menguap dari bawah sepatunya, menjadi panel jatuh yang sempurna. Yosi terperanjat, kedua tangannya mencabik udara, mulutnya terbuka untuk memanggil nama siapa saja—tidak ada yang keluar. Ia jatuh ke ruang di bawah pendopo, tubuhnya menghilang dalam gelap seperti batu ditelan nelayan.
“YOSI!” Anya menjerit dari dalam terowongan, suaranya memukul dinding, memantul beberapa kali lalu mati.
Jo refleks ingin naik—memanjat tali lagi. Marga menahan pergelangan tangannya. “Kalau kamu naik sekarang, kamu jatuh ganti,” katanya, matanya tajam oleh realisme yang tidak punya kulit lembut. Jo menatapnya—murka kecil di belakang pupil—lalu menahan. Nafasnya seperti api pendek.
Pemimpin suku menunduk ke bibir sumur, melihat kosong. Ia memukul gong sekali—nada rendah. Penjaga berhenti bergerak. Pendopo kembali menjadi panggung yang menunggu ujung adegan.
Di bawah, tiga orang itu berjalan merunduk. Keping-keping cermin di atas mereka memantulkan wajah bukan hanya sekali; terkadang wajah sendiri kembali dari sudut yang tidak semestinya, membuat otak tersandung. Jo memilih menatap tanah. Anya sesekali menatap ke atas—mungkin bintang palsu tetap bisa mengantar, pikir yang terlalu manis untuk tempat kotor.
Di satu tikungan, dinding menyempit. Marga meraba panel di kiri. Ada engsel kecil yang disamarkan. “Pintu,” katanya. “Dari sini harusnya bisa… keluar lagi ke pendopo? Atau ke—”
Panel terbuka sendiri. Asap tipis menyusup. Anya batuk, cepat menutup mulut dengan lengan. Jo mengumpat, mundur selangkah. Di balik panel, sebuah ruang kosong dengan lantai miring. Dari atas, suara yang mereka kenal jatuh seperti benang: suara Vino—tawa kecilnya, bagian yang selalu ia pakai untuk membungkus luka—menyusul suara Arya memaki, Bimo menyebut “bro”. Mereka berdiri, terikat tak terlihat oleh sesuatu yang katanya tidak ada: harapan.
“Tidak,” kata Marga. “Itu pita suara tempat ini.” Ia menarik Anya kembali. Jo menahan, memukul dinding sekuatnya—memastikan itu dinding, bukan mulut lain.
Mereka terus. Di ujung terowongan, sebuah pintu kisi besi menunggu, kuncinya dari cincin serupa—lingkaran, segitiga, garis miring ganda—yang mereka pasang di atas. “Tiga cincin untuk membuka ini.” Marga menelan ludah, jemarinya meraba tiap gigi kunci yang sesuai. Mereka memutar bersama—klik yang bagus. Pintu terbuka.
Di baliknya—udara luar. Bukan luar kamp. Bukan juga luar hutan. Tapi udara yang bukan milik ruangan. Mereka keluar ke bawah panggung pendopo—ruang sempit yang berdiri di kaki-kaki kayu. Cahaya rembes mengiris gelap. Dari sela lantai, Anya bisa melihat kaki-kaki penonton bercat di atas. Mereka mengendap, memutari tiang, mencari tangga. Tidak ada. Hanya tali tua menggantung—tulang punggung pendopo.
“Naik?” tanya Jo.
“Bukan sekarang,” Marga menggeleng. “Di sana,” ia menunjuk celah kecil di sisi pondasi—cukup untuk seorang anak, hampir cukup untuk orang dewasa yang memaksa kehilangan kulit. “Itu keluar ke… parit kecil.”
Mereka merayap. Anya lebih kecil; ia duluan, menunduk, bahu menggesek kayu, serpih masuk ke lengan, ia tahan. Jo memaksa tubuh besar melewati celah—kemejanya sobek, kulitnya memar; ia tidak mengadu. Marga terakhir, menutup jalan dengan memasang kembali papan yang bisa ia dorong.
Ketika mereka berhasil, mereka mendapati diri di belakang pendopo, ternaungi akar-akar dan rumput yang tumbuh malas. Dua penjaga berjaga di sisi; untungnya menghadap ke luar, bukan ke sini. Napas mereka tiga orang teraturkan dulu.
“Yosi jatuh,” Anya berbisik, akhirnya mengizinkan kalimat itu menyentuh udara. “Aku… aku dengar.”
Jo menutup mata sepersekian. “Aku juga.” Giginya menggiling kata yang tidak ia punya. “Kalau dia… kalau—” Kata mati menjadi kabut di mulutnya.
“Jangan di sini,” Marga menarik jaket mereka pelan. “Kita terlihat. Kita cari bayangan lain.”
Mereka merayap menyusuri parit kecil itu, berhenti di dekat semak yang menutupi garis pagar. Dari celah, Anya bisa melihat panel lantai di pendopo—yang menelan Yosi—sudah ditutup kembali, rapi, tak berbekas. Penjaga menyebar, ritme kembali membosankan. Panggung siap untuk apa pun babak berikutnya.
Anya menggigit bibir sampai rasa besi kembali. “Helen,” katanya, lebih kepada tanah. “Dia ditarik ke… entah ke mana.”
“Dia pintar,” Jo mendesis. “Kalau ada orang yang bisa balik…” Ia tidak menuntaskan. Kalimat itu terlalu berat untuk punggungnya.
Marga menatap dua temannya, lalu menatap kamp, lalu menatap jarak yang selalu terbentuk di antara harapan dan kesempatan. “Kita tiga,” katanya—data yang dingin. “Tiga ini… bukan kemenangan. Ini angka sementara.”
Jo memelototi pagar. “Kalau angka ini minta ditambah, gue tambah.” Suaranya seperti janji yang dibuat tanpa saksi di depan makam.
Anya menunduk, memeluk lutut. Pita merah di pergelangannya menggeser sedikit—simpul yang tampak sederhana, tapi tidak pernah benar-benar longgar. Ia menyentuh simpul itu, memikirkan semua simpul lain yang diperketat hari ini: di tali kulit atap, di panel lantai, di tenggorokannya sendiri. Ia menelan dan bicara pelan: “Besok.”
Kata itu di sini bukan rayuan. Ia keras kepala. Ia kecil. Ia tetap berkata.
Di pendopo, gong dipukul sekali lagi—tenang, seperti tepuk tangan kecil untuk adegan yang selesai. Para penjaga bubar. Kabut memindahkan diri. Empat topeng hitam tadi menatap kosong dari atas meja—yang satu di susut, talinya putus. SPIRAL.
Malam belum datang. Tapi siang ini rasanya sudah kehabisan cahaya. Di parit yang memeluk mereka, tiga remaja menarik napas yang sama untuk pertama kalinya sejak lama: napas yang tidak menguatkan, tapi cukup untuk berganti langkah.
Di bawah pendopo, udara tetap dingin. Di sesuatu yang menyerupai perut kamp itu, seseorang mungkin bernafas atau tidak—tidak ada yang tahu. Kamp menyimpan caranya sendiri untuk membuat orang menunggu.
Selesai membaca Episode 7: Empat yang Tersisa