Font: Medium

Navigasi Episode

Perjalanan Terakhir Cover

Perjalanan Terakhir

Episode Saat Ini:
#6 - Api Balik
Episode 6

Perjalanan Terakhir

Api Balik

Ringkasan Episode

Upaya kabur terkoordinasi—tali jemuran dijatuhkan, minyak ditumpah licin, pin pagar dicungkil—hampir berhasil sebelum alarm gong memecah malam. Pertempuran singkat berakhir dengan penangkapan; eksekusi Hendro dilakukan cepat, rapi, dan sunyi. Anya memeluk kata “pulang adalah pilihan” yang Hendro titipkan; Jo mengekalkan marah menjadi bara yang tidak padam.

Sore merayap seperti hewan yang tak sabar. Cahaya kuning pucat memantul pada bambu dan wajah-wajah yang tak lagi percaya kepada jam. Di kandang, mereka duduk lebih dekat dari sebelumnya—bukan karena akrab, melainkan karena dingin dan ketakutan punya cara sendiri untuk menyingkirkan ruang.

Hendro berdiri, bahunya menutup separuh pintu jeruji. Matanya menghitung sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain: pergantian penjaga, arah angin, letak tombak. Dua hari terakhir, ia menandai ritme yang tidak berpindah—seseorang selalu menguap di menit yang sama, seseorang selalu menjatuhkan gagang tombak di tikungan itu, seseorang selalu menggaruk punggung kanan dua kali sebelum berkeliling. Hal-hal kecil yang menyusun celah.

“Dengar,” katanya pelan, menahan agar suara tak memantul keluar. “Malam ini kita coba. Bukan semua. Setengah. Yang lain pura-pura tidur—buat mereka percaya kita tidak kompak.” Ia menoleh ke satu-satu—ke Anya, Marga, Jo, Helen, Yosi—mencari tanda setuju yang tidak butuh kata.

Jo mengangguk cepat, seperti kepalanya tebal oleh sesuatu yang ingin dipatahkan. “Gue bagian depan,” katanya. “Kalau pagar itu jatuh, biar jatuh karena gue.”

“Bagian depan rawan,” jawab Hendro tenang. “Kamu di kiri, ladang bambu. Kalau penjaga datang dari sana, tahan. Tidak perlu pahlawan. Kita tidak cari mati.”

Jo mengangkat dagu. “Kalau mereka cari mati, gue kasih punya gue.” Tapi ia menuruti posisi.

Marga bersuara tanpa mengangkat wajah. “Ada tali jemuran di belakang pondok barat, dipakai untuk mengikat kulit hewan. Kalau dipotong, jatuhnya mengenai kepala dua penjaga yang jaga sudut.” Ia menatap Hendro. “Tanpa suara. Tali itu tua.”

Hendro mengangguk. “Itu kamu.”

“Aku bisa,” jawab Marga datar.

Anya melihat dari sudut, ikut memasukkan potongan-potongan kecil ke dalam gambar besar yang ditarik Hendro. Jari Anya gemetar sebentar; ia mengepalkannya dalam saku. “Aku bantu Marga,” katanya. “Kalau tangan satu ketinggian, tangan lain yang pegang.”

Hendro menatapnya lebih lama dari yang perlu. “Baik. Tapi ingat, kalau salah satu jatuh—”

“Yang satu lagi tidak ikut,” potong Anya. Ia mengucapkan kalimat itu seperti menelan pil pahit. “Aku mengerti.”

Helen duduk dengan satu lutut terangkat, jari-jarinya mengusap garis halus pada pita merah di pergelangan. Tatapannya menyapu ke pintu kandang, lalu ke kanan—ke sudut gelap di mana dua penjaga biasa berganti jaga. “Ada simpanan minyak di ember dekat altar kecil,” katanya. “Kalau ditumpahkan di rute patroli, kaki mereka terpeleset. Minyaknya bau, tapi kalau cukup sedikit, mereka tidak sadar sampai terlambat.” Ia mengangkat wajah, menatap Hendro lurus. “Aku bisa memancing dua penjaga ke sana.”

“Bagaimana?” Hendro curiga, tapi waktu adalah pintu yang sudah setengah terbuka.

Helen tersenyum tipis—senyum orang yang tahu bahasanya sendiri. “Aku punya cara. Mereka manusia. Manusia melihat apa yang ingin dilihatnya.”

Yosi, di pojok, menatap tangan sendiri. Kuku-kukunya bersih—kebiasaan lama yang bertahan dalam kotor. “Aku bisa… mengalihkan pagar kecil di belakang kandang,” katanya ragu. “Ada pin yang longgar. Kalau dicungkil, pagar itu bisa dibuka seperti pintu kecil. Bukan keluar, tapi ke lorong servis. Mungkin bisa dipakai untuk lewat tiga orang… empat, kalau—”

“Menit apa?” tanya Hendro cepat.

“Kalau gong dipukul setengah putaran,” Yosi menelan ludah. “Penjaga besar selalu pergi ke sisi utara, sendirian, untuk—” ia tidak menyelesaikan. Kata “kencing” terlalu sehari-hari untuk diucapkan di tempat ini, tapi semua mengerti.

“Bagus.” Suara Hendro tidak memberi selamat. “Kamu ikut rombonganku. Kalau gagal, kamu balik paling dulu.” Ia menatap semua, satu-satu. “Kalau ada yang jatuh, jangan diselamatkan. Kita bukan tidak peduli. Kita menunda penyesalan.”

Hening menggumpal. Kalimat itu kejam. Dan benar. Kebenaran yang tidak punya selimut.

Anya mengangkat tangan, ragu. “Hendro.” Ia memanggil pelan, seperti memanggil orang di mimpi agar tidak menghilang. “Kalau… kalau ini berhasil…”

“Kita tidak selesai,” potong Hendro. “Kita hanya pindah kandang.”

Anya menelan. “Kalau gagal?”

Hendro diam sejenak, menatap tanah. “Aku akan pastikan kamu tidak lihat.” Ia tidak sadar kalimat itu keluar. Anya menarik napas, menahan di tulang rusuk, lalu mengangguk sekali.

Malam datang dengan langkah tanpa suara, menutup mata kamp dengan telapak yang bau asap. Obor-obor dikurangi, hanya menyisakan titik api di sudut-sudut strategis. Gong dipukul tiga kali—pendek—lalu sunyi yang berdenting panjang. Kunjungan dingin menyusup lewat celah-celah bambu.

Hendro memberi isyarat. Tubuh-tubuh bergerak seperti bayangan—memanjang, memendek, melewati jeruji. Pintu kandang kecil di bawah anyaman—yang baru Marga sadari tadi siang—diangkat. Bunyi tak ringan ditelan batuk Yolanda yang pura-pura: tugasnya hari ini adalah bising. Yolanda menarik napas, mengeluarkan isakan tipis yang memancing seorang penjaga menoleh dan menggeram. Helen duduk di sampingnya, mengelus punggungnya pelan, seperti kakak yang tahu cara menutup mata adiknya. Penjaga bosan—itu yang diharapkan.

Di sisi barat, Marga sudah berada di bawah tali jemuran. Anya memegangi bebannya dari bawah, mengambil alih sejenak ketika Marga menarik pisau kecil yang entah dari mana muncul (Helen menyelipkannya ke telapak Marga saat melewati). Serat rotan digesek-gesekkan, debu halus menempel di jari. Marga berhitung dalam kepala—tiga, dua… satu. Tali putus setengah. Suara langkah dari tikungan terdengar—dua langkah berat. Marga menahan napas. Saat penjaga melewati, ia menarik sisa tali. Jemuran, bambu, kulit-kulit—semuanya jatuh menimpa bahu dua lelaki bercat. Mereka terhuyung, satu jatuh terduduk tanpa suara, yang lain terpeleset, kepalanya menghantam tiang. Anya menahan tali agar jatuhnya lembut—supaya tidak terdengar. Kaki mereka gemetar; mereka saling menatap sebentar—kita melakukan ini—lalu menghilang ke dalam bayang-bayang menuju titik berikut.

Di sisi lain, Helen berjalan tepat di depan dua penjaga lain, sengaja menampakkan diri di ujung pandang lalu menghilang di tikungan, seperti kunang-kunang yang genit. Ketika dua penjaga itu ikut, Helen menumpahkan secangkir minyak dari ember yang disembunyikan di balik tiang—kaki mereka menghajar lantai. Suara plek disusul umpatan. Helen berlari kecil, menahan tawa yang tidak ada. Mata penjaga menyipit—mereka tersinggung oleh kelemahan sendiri—mereka bangkit terburu-buru, kehilangan ritme. Dalam kebingungan, lampu minyak terantuk, tumpah sebaris tipis di tanah. Api menjilatnya—biru, cepat—membuat penjaga sibuk memadamkan jejak yang hampir tidak berarti. Helen pergi, tidak menoleh. Di wajahnya, tidak ada bangga. Hanya kerja rapi.

Hendro, Jo, dan Yosi merayap ke pagar kecil di belakang kandang. Yosi meraba pin yang longgar, menghitung klik yang dihafal telinganya. Kuku Yosi menggigit logam tumpul; pin bergeser setengah. Gong dipukul sekali—panjang. Penjaga besar di utara—seperti biasa—menghilang ke kegelapan untuk urusannya sendiri. Yosi menahan napas, memutar pin. Pagar kecil membuka seperti mulut yang malas.

“Tiga orang dulu,” bisik Hendro. “Aku, Jo, Yosi. Lainnya menyusul kalau aman.”

“Kenapa bukan aku?” Anya hampir refleks memprotes.

“Karena kamu dibutuhkan di sisi barat.” Hendro menatapnya, menahan agar tatapannya tidak berubah menjadi sentuhan. “Dan karena kamu harus jadi orang yang menyebut besok kalau malam ini memutuskan kita.”

Kata-kata itu menyentuh kulit Anya seperti hujan sangat lembut yang membuat telinga panas. “Besok,” ulangnya, sebagai janji yang ia tak tahu bagaimana menepati.

Mereka merunduk melewati celah. Di belakang pagar, lorong servis memanjang, diterangi sinar rembesan dari atas. Bebatuan licin mengingatkan orang untuk pelan. Hendro di depan, telinganya menangkap sesuatu yang halus: desis tali, desau daun. Ia mengangkat tangan—stop. Di tikungan, dua bayangan: penjaga. Hendro menempel, menghitung jarak dua langkah. Jo mengencangkan rahang. Yosi menggenggam pin yang tadi tercabut seperti orang berdoa pada logam.

Isyarat. Serentak. Hendro menghajar batang leher penjaga pertama dengan sisi tangan; Jo menekan mulut penjaga kedua, menariknya ke tanah. Kedua tubuh berkedut—sekali, dua. Senyap. Hendro menatap mata Jo. Jo mengangguk—bukan merayakan, hanya menyatakan hidup. Mereka menyeret tubuh ke bawah tumpukan daun.

“Sekarang pagar luar,” Hendro berbisik. “Tali besar di simpul atas kiri. Mesti ditembak—”

Dari arah lapangan, gong meledak—cepat, panik. Tiga, empat, lima pukulan. Serentak, obor menyala di titik-titik yang semula gelap. Udara berubah warna. Alarm.

“Siapa?” desis Jo.

Dari arah barat, suara ribut—jeritan penjaga, dentum bambu. Anya menoleh dari bayangannya; Marga melotot, napasnya tersedak. Mereka telah dihitung?

Hendro menggertakkan gigi. “Cepat!” Ia melompat ke tali besar—jangkauan sedikit kurang. Jo menunduk, mengangkatnya sedikit. “Cepat, cepat!” bisik Jo, napasnya panas. Hendro meraih paruh simpul, memutar dengan sekuat lengan. Tali besar bergeser setengah—cukup untuk melonggarkan ketegangan pagar. Papan bambu di bawahnya retak halus.

Jerit melengking memotong udara—bukan jerit siswa. Penjaga. Itu baik—atau buruk; di malam seperti ini, baik dan buruk saling bertukar baju.

Dari arah altar, sebaris anak panah melesat, menancap ke tanah di kiri Jo. “Sial!” Jo menunduk. Panah berikutnya menghantam tiang di atas Hendro. Tali melecut. Hendro terpeleset, hampir jatuh—Yosi menangkap siku, menahan. “Peganganku!” desis Hendro—lebih pada dirinya sendiri. Ia naik lagi, memutar lagi—sekali, dua—kaki bergetar.

Di sisi barat, kamp tiba-tiba menyala. Bukan obor. Minyak yang tadi tumpah tertarik oleh angin, menjilat serak lantai, melahap cepat—garis api biru yang begitu cantik untuk sesuatu yang memakan. Helen berdiri di bayangan pondok, menatap. Ia tidak bergerak, tidak lari—ia mengukur seberapa batas yang aman. Dua penjaga menari panik, memukul api dengan kain—kain itu menyala—panik merambat biologis.

“Sekarang!” Hendro memutar simpul terakhir. Pagar luar merendah satu jengkal—celah muncul seperti bibir yang akhirnya muak pada kebisuan. “Lewat!” Hendro memaksa. Jo menyelinap lebih dulu, tubuh besar itu licin dari keringat, melewati celah sempit. Yosi menyusul—bahunya tergores bambu. Hendro terakhir, menekankan punggung agar pagar tidak kembali menutup.

“Anya, Marga—” suara Hendro ke arah mereka, bukan teriakan, tapi sesuatu yang berharap.

Anya dan Marga sudah bergerak setengah, melewati ladang bambu, ketika suara itu datang: suara yang bukan manusia, bukan hewan, melainkan peluit tulang yang memecah kepala seperti kaca. Detik berikutnya, jala raksasa jatuh dari pohon, menutup ladang bambu, menahan tubuh-tubuh yang ada di bawahnya. Marga menunduk sepersekian, Anya merunduk—keduanya selamat dari jala, namun barisan lain—dua siswa—terjaring; jerit mereka ditelan arahan yang tak kelihatan.

“Balik!” Hendro memerintah, tapi kakinya sudah terlalu jauh. Dari lorong servis, lima penjaga muncul di belakang mereka. Di depan pagar, tiga lagi menghadang, tombak menyilang. Celah kecil secara perlahan ditarik naik—pagar kembali rapat.

Jo menurunkan bahu—pilihan terburuknya selalu adalah mundur. Ia menerjang ke depan, menghajar satu tombak ke samping, meninju dada penjaga. Dua penjaga lain menahan; Jo menggeram—tinggal separuh tenaga—namun mata menyala. Hendro bergerak menyilang, mengunci lengan satu penjaga, memutar—bahu penjaga berderak. Yosi—tanpa rencana—melempar pin logam ke wajah penjaga terdekat; benda kecil itu mengenai alis, menyebabkan sesaat buta. Satu detik yang terlalu mahal untuk dibiarkan jatuh: Hendro memanfaatkan, menyelinap lewat sisi, mencari celah baru. Tidak ada.

Gong bergema lagi—kali ini memerintahkan. Dari pondok dekat altar, para penjaga keluar membawa benda yang—sangat disayangkan—mereka kenali: tiang kecil dan tali panjang. Bukan untuk pagar. Untuk tahanan.

Anya melangkah maju, menahan dorongan di dada. “Hendro!” panggilnya, suaranya patah. Marga meraih pergelangannya. “Jangan,” bisik Marga. “Jangan jadi dua.”

Hendro menoleh. Ada sebaris kalimat di mata itu—panjang, padat, tapi harus diringkas jadi satu kata: Maaf.

Mereka ditangkap tanpa banyak perlawanan lagi, bukan karena menyerah, melainkan karena angka. Yosi diikat pertama, Jo kedua—ia mengaum, memuntahkan semua kata binatang yang pernah ia dengar, tapi tali tidak tersinggung. Hendro terakhir, tangannya disilangkan di belakang, tubuhnya dipaksa berlutut. Pukulan ke belakang kepala membuat cahaya di matanya pecah jadi berkeping-keping kecil, tapi tidak padam.

Lapangan tengah menunggu mereka dengan dingin seragam. Penonton bercat berderet, diam. Tidak ada tarian kali ini. Tidak ada pertunjukan panjang. Hanya tiang yang sudah berdiri sejak sore, menunggu nama yang akan dikenang batu. Api belum dinyalakan.

Anya berdiri di belakang garis yang mereka paham artinya: kamu tidak melangkah. Kakinya gatal ingin mengkhianati garis. Marga menahan. Di samping, Helen menyilangkan lengan, wajahnya netral. Matanya bergerak satu derajat ke kiri—perhitungan terakhir—lalu berhenti.

Pemimpin suku—yang selalu memimpin—melangkah ke tengah. Cat putih di wajahnya lebih tebal malam ini, garis hitamnya lebih jelas. Ia memegang sebilah pisau batu yang tidak pernah tampak tumpul. Ia berdiri di depan Hendro.

Anya menahan napas hingga dadanya sakit. “Jangan,” katanya, tidak pada siapa pun, tidak ke langit—kata itu seperti mencoba menahan hujan dengan payung kecil. Jo menunduk, menggertakkan gigi, bibirnya berdarah karena terlalu ditekan. Yosi menutup mata, bukan karena tidak sanggup melihat, melainkan karena beberapa hal lebih menyakitkan bila dilihat orang lain tahu kamu melihatnya.

Hendro mengangkat kepala. Wajahnya tidak menantang. Tidak juga memohon. Ada sesuatu yang lembut—aneh pada saat seperti ini—ketika matanya mencari dan menemukan Anya. Anya melihat garis kecil di pipinya—bekas bambu dari labirin. Ia mengingat jari-jemarinya yang dingin di tepi kayu kolam. Ia mengingat kalimat di malam E4: pulang adalah pilihan.

Hendro mengangguk kecil. Sekecil ucapan sampai jumpa orang yang berangkat kerja.

Pisau batu itu turun.

Bukan cepat, bukan lambat. Cukup untuk membiarkan udara di tengahnya menyiapkan telinga. Suara yang muncul sesudahnya bukan suara yang ingin ditulis ulang di kertas. Benda cair menyentuh tanah, membuat pasir menjadi warna yang tidak asing, tetapi tidak pernah ingin dihafal.

Anya tidak menjerit. Tubuhnya menolak. Ia hanya merasa telinganya keluar dari kepalanya sendiri, berdiri di samping, mendengar sesuatu dari jauh. Marga memegang tengkuk Anya, menarik wajahnya dua derajat ke bahu—bukan untuk menyembunyikan, melainkan agar dunia tidak terlalu besar dalam satu pandang.

Jo mengguncang tali di tangannya seperti ingin merobek waktu. Suaranya keluar serak, “HENDROOO!” Nama itu melompat, lalu jatuh di antara kaki-kaki penonton yang tidak peduli.

Helen memejamkan mata satu detik—hanya satu—lalu membukanya lagi. Di wajahnya tidak ada air, tapi di dalamnya ada sesuatu yang berubah bentuk.

Eksekusi selesai lebih singkat dari yang mereka bayangkan, lebih panjang dari yang mereka sanggup. Hendro dijatuhkan, diseret sedikit, kemudian… ditampilkan. Mereka seperti ingin mengajari sesuatu yang tidak bisa diajarkan: bahwa hidup bisa diputus dengan cara yang rapi.

Anya mengeluarkan napas yang baru ia sadar ditahan. Ketika napas itu keluar, sesuatu yang ringan juga keluar—sebagian dari yang membuatnya percaya dunia tak akan sekejam ini. Ia memanggul ruang itu sendirian. Marga menggeser bahu, memberikan separuh.

Dalam ricuh yang tenang itu, tidak ada yang memperhatikan Helen bergerak dua langkah ke belakang, lalu tiga ke samping, lalu berdiri tepat di titik di mana bayangan tiang menutupi setengah wajahnya. Ia menatap pemimpin suku terlalu lama—satu detik lebih dari pantas. Pemimpin itu menoleh sekilas, seolah-olah bahkan bayangan punya suara. Lalu pergi.

Malam menutup lagi. Para penjaga mengembalikan mereka ke kandang—tanpa dorong, tanpa ejek. Hanya kerja, seperti biasa. Pita merah di pergelangan mereka terasa lebih ketat malam ini, padahal simpulnya sama.

Di sudut kandang, Anya duduk tanpa suara. Tangan kirinya bergetar; tangan kanan menutupinya. Marga duduk di samping—jarak setengah telapak. Anya menoleh pelan, mata yang sembab akhirnya menemukan bibir yang sanggup bicara. “Dia bilang… pulang… adalah pilihan.”

Marga menjawab setelah mengunyah kata. “Maka kita pilih pulang,” katanya. “Kalau bukan hari ini, besok. Kalau bukan lewat pintu, lewat lubang. Kalau bukan dengan kaki, dengan kepala.”

Anya mengangguk. Air mata yang tidak ingin keluar, keluar juga. Tidak pecah. Hanya jatuh—sunyi. Marga menatap lurus, membiarkan satu air matanya sendiri turun tanpa ditemani.

Jo di ujung lain kandang menekuk tubuhnya jadi batu. Nama Hendro bertahan di kepalanya seperti api kecil yang tidak mau padam. Ia tahu, besok, api itu akan butuh kayu.

Yosi bersandar pada bambu, menatap telapak tangannya. Di lipatan kulit, ada garis minyak dari ember near altar yang entah bagaimana menempel. Ia gosok—tidak hilang. Ia berhenti. Kadang yang tersisa harus dibiarkan menjadi bekas, supaya ingatan punya tempat untuk kembali.

Angin malam menyelusup, membawa suara gong tunggal—datang dari sangat jauh, seperti seseorang memukul hati bumi dengan palu kayu. Dum. Sunyi lagi. Api di altar dikecilkan. Bayangan menutup wajah-wajah yang belum ingin memejam.

Anya menegakkan punggung, merapatkan jaket. “Besok,” bisiknya. Kata yang kecil. Kata yang keras kepala. Kata yang, di tempat seperti ini, adalah satu-satunya doa yang berani.

Di luar, kegelapan berkedip pelan, seperti mata raksasa yang setengah tertidur. Besok akan datang—dengan gigi atau dengan tangan. Dan mereka, entah bagaimana, akan tetap menyiapkan cara menyambutnya.

Selesai membaca Episode 6: Api Balik

Perjalanan Terakhir