Lonceng Satu Nafas
Mereka diburu seruling tulang dan sumpit sambil harus “menyanyikan” tiga gong dalam satu tarikan napas; improvisasi Anya–Marga memantulkan proyektil dari batu berlubang, sementara Jo memancing dan menjatuhkan pemburu di parit. Di altar, Anya hampir dijadikan korban—namun nada perintah mengubah panggung: ia diseret ke pintu kecil altar, menghilang ke ruang yang lebih dingin daripada hutan.
Kabut pagi tidak menutup matahari; ia sekadar menaruh jarak tipis antara mereka dan hal-hal yang masih bisa percaya pada terang. Di parit kecil di belakang pendopo, Anya, Marga, dan Jo bangun dengan punggung pegal dan baju lembap. Rumput menempel di lengan, serpih kayu menggarit kulit seperti catatan pendek yang ditinggalkan malam.
Mereka belum bicara. Nama-nama yang dipanggil kemarin—Helen, Yosi—masih berdengung di tempat yang bahkan bisik pun enggan masuk. Jo mengusap mukanya dengan telapak yang bau tanah. “Kita balik,” katanya akhirnya, memilih kata paling pahit: menyerahkan diri untuk hidup satu hari lagi. Marga mengangguk; Anya menarik resleting jaket sampai ke tulang selangka. Mereka merayap keluar parit, menunggu jeda patroli, lalu melangkah ke arah kandang dengan kepala menunduk seperti orang pulang dari pasar yang tidak membeli apa-apa.
Penjaga-penjaga bercat seperti sudah tahu mereka akan kembali. Tidak ada ejek; hanya gerak tangan datar: masuk. Pintu bambu menelan tiga bayangan. Dari sudut lain kandang, seorang anak yang semalam masih ada kini hilang—lubang baru itu tidak lagi memerlukan nama.
Anya duduk, punggung ke jeruji. Ia menatap sendi-sendi jarinya, garis merah halus dari kolam belum hilang benar. Marga duduk di samping, cukup dekat untuk berbagi hangat, cukup jauh untuk memberi ruang. Jo berdiri, menahan gemetar dengan cara paling maskulin yang ia pahami: menyuruh tubuhnya diam.
Tak lama, para penjaga berdiri berderet di depan kandang. Pemimpin mereka—cat putih-hitam tebal, garis hitamnya tajam—mengangkat sebuah benda dari baki kayu: tabung bambu seukuran lengan, di ujungnya disumpal kain. Benda serupa dibagikan tiga. Penjaga lain mengangkat palupuh kecil berisi tiga batu bulat—seukuran telur, dilapis logam tipis. Di belakang mereka, seseorang memukul gong sekali—nada panjang yang memaksa napas berhenti di tengah jalan.
“Permainan,” desis Jo, tidak menanyakan apa.
Pemimpin menunjuk tabung—menunjuk mulut—lalu menunjuk gong di lapangan kecil sebelah barat. Setelah itu, ia menunjuk dua gong lain di kejauhan: satu di arah timur, satu di utara, disembunyikan pepohonan. Tiga metal bulat yang tergantung, masing-masing diikat tali ke tiang rendah. Ia lalu mengangkat tiga batu logam dari palupuh dan memasukkannya ke telapak tangan Jo, Marga, Anya—satu-satu—gerak lurus, tanpa ancaman, seperti petugas membagikan nomor antrean.
Marga menyipitkan mata, memetakan cepat: tiga gong di tiga arah—barat, timur, utara. Tiga tabung bambu. Tiga batu logam. “Ini seperti pukulan jarak jauh,” gumamnya—mulut hampir tidak bergerak. “Kita meniupkan batu lewat tabung ke gong. Dalam satu napas.”
“Kalau salah?” Jo mendengus.
“Kita selalu salah di sini,” jawab Marga, datar. “Pertanyaannya: salahnya yang mana.”
Pemimpin menunjuk matahari—yang mulai naik—lalu menggambar lingkaran perlahan di udara, menutupnya di dada: waktu. Setelah itu ia menggerakkan dua jarinya ke bibir, lalu mengarahkannya ke pepohonan; isyaratnya berubah tajam: mereka akan diburu. Di belakang barisan penjaga, beberapa lelaki bercat memegang seruling tulang dan sumpit panjang.
Anya menelan ludah. Tabung bambu terasa dingin di telapak, batu logam berat dengan cara yang menegaskan dirinya. “Kita ke mana dulu?” bisiknya.
“Barat,” kata Marga, mendengar sesuatu yang belum terdengar: ritme gong besar yang kira-kira sama jaraknya, angin yang lebih sering datang dari selatan. “Barat dulu, lalu belah—dua ke timur, satu ke utara. Satu napas per gong. Kalau tidak—” ia tidak menyelesaikan. Kata “kalau tidak” di kamp ini sudah terlalu sering dieja.
Mereka diarak ke garis start di lapangan. Tali merah di pergelangan—pita dari Kotak Merah—masih terikat. Pemimpin mengangkat tangan. Gong dipukul. Sekali—anjang. Sekali lagi—lebih cepat. “Sekarang,” Jo menggeram pada udara. “Lari.”
Hutan menyambut dengan akar-akar licin dan tanah miring yang tidak pernah benar-benar memutuskan ingin jadi lumpur atau debu. Anya berlari di belakang Jo, Marga di ujung pandang mengatur arah dengan jari menunjuk—kiri dikit, naik dua langkah, miring kanan. Nafas mereka dibagi ketakutan, langkah dibagi akal.
Di kejauhan, seruling tulang mulai: nada tinggi yang tajam seperti serangga, datang dari dua arah, menjawab satu sama lain. Anya tahu—tanpa diajari—bahwa seruling itu bukan musik. Itu peta bagi pemburu.
Gong barat muncul di sela bambu—piringan logam kusam, setinggi dada, menggantung sendirian. Jo mengangkat tabung, masukkan batu logam ke mulutnya. Anya menahan Napas; Marga menoleh sekilas untuk memastikan sudut.
“On my mark,” kata Marga, tanpa sadar memakai bahasa yang ia pelajari di buku-buku—bahasa yang membuat Jo ingin tersenyum kalau bukan karena paru-parunya. “Satu… dua… tiup.”
Jo meniup sekeras-kerasnya. Batu logam melesat, memukul gong TANG!—suara bulat yang memantul ke pepohonan. Di saat yang sama, ada desing—anak panah kecil dari sumpit menghantam pohon tepat di pinggir kepala Jo. Jo memaki. “Berikut!”
Marga menunjuk timur. Mereka membelah: Marga dan Anya ke timur; Jo sendirian ke utara. “Ketemu di parit kecil dekat batu berlubang!” teriak Marga. Jo mengangkat tangan—sinyal cepat—lalu lenyap di antara batang-batang lebar seperti tiang.
Anya berlari bersama Marga. Seruling tulang dari kiri; Marga mengubah jalur ke kanan, melewati dua ranting rendah. Mereka lapar napas, tapi harus menyisakan satu untuk gong berikutnya. Anya menepuk dada, menenangkan paru-paru. “Beri aku tanda,” ucapnya pada Marga.
Gong timur lebih tersembunyi—diletakkan miring di balik pohon akar. Marga mengangkat tabungnya. “Satu, dua—” Anya menutup bibirnya rapat, menyedot udara dalam satu gerak yang butuh keberanian. “—tiup.”
TANG! Suara gong seperti bola logam yang dijatuhkan ke sumur—menggelinding lama. Dari balik pepohonan, seruling berhenti sepersekian, lalu mengejar. “Lari!” Marga menarik pergelangan Anya. Panah kecil menancap ke akar di belakang kaki mereka.
Mereka melesat sesuai janji tadi—menuju batu berlubang: batu besar dengan satu lubang oval di tengah seperti mulut. Di sana, Jo sudah menunggu dengan punggung basah. “Utara?” tanya Anya di antara dua detik.
Jo mengangguk. “Kena. TANG. Pemburu dua orang. Aku kasih mereka bekas injak—muter sedikit.”
“Yang terakhir di mana?” Marga mengedarkan pandang. Hutan adalah lidah yang panjang: semuanya mirip, semuanya punya aksen.
Anya memutar tabung di tangannya. “Tidak ada gong terakhir. Baru dua.” Dia sadar kalimatnya tak perlu—kepalanya sedang mencari hal lain: kenapa tiga tabung kalau tujuan cuma tiga? “Mungkin bukan ‘tiga gong’, tapi tiga nada dalam satu tarikan,” gumamnya, lebih pada dirinya. “Kita sudah dua nada… satu lagi bisa diulang? Atau—”
Gong berbunyi sendiri—pendek, dekat—padahal tidak ada di depan mereka. Mereka bertiga membeku. Suara itu datang dari… atas? Mereka mendongak. Di atas kepala mereka, di antara daun-daun, tergantung gong kecil lain—lebih kecil, disembunyikan tinggi. “Bangsat,” bisik Jo. “Mereka taruh varian.”
“Tidak bisa ditiup dari bawah,” Marga menilai cepat. “Sudutnya jelek. Kita butuh pantulan.”
“Dari batu,” Anya menunjuk lubang batu besar. “Masukkan tabung lewat lubang, sudutkan sedikit… aku pegang. Kamu tiup.”
Marga menggeleng sepersekian—bukan menolak ide, melainkan menguji. “Coba.” Anya merebahkan tabung ke lubang batu, matanya menaksir lintasan. “Turunkan dua derajat,” katanya pada Marga. Marga menurunkan. “Sekarang.”
Marga meniup—keras, tepat saat seruling tulang kembali dekat. Batu logam memantul, keluar dari lubang, naik dalam lintasan parabel yang terlalu indah untuk tempat ini… TANG! Gong kecil di atas bergetar, suara tajamnya memukul daun-daun.
“Lari,” Jo tidak perlu perintah. Mereka meluncur menghindari semburan panah kecil—dua mengiris udara dekat telinga Anya. Suara gong merambat, memanggil pemburu ke tempat yang baru saja kosong.
Mereka menuruni punggung bukit kecil—di bawahnya, kabut kumpul lebih tebal, menahan sinar. Ada parit air sedalam lutut, berlumut di sisi. “Ke sini,” Marga melompat turun, kaki menyentuh air dingin yang membuat betis menjerit. “Bau air menyamarkan jejak.” Jo menyusul, mengucek pipi dengan air—membunuh bau keringat.
Seruling tulang berpindah lagi. Sumpit mendesis. Dari balik semak, satu penjaga muncul—wajah putih garis hitam—mengangkat sumpit ke arah mereka. Jo bergerak duluan—menghempas lumpur dengan kaki, mengenai mata penjaga. Lelaki itu terhuyung; sumpit menembakkan panah ke arah lain. Jo menubruk, menghajar dada dengan bahu. Tenaganya tinggal sisa, tapi diamuk sesuatu yang mengenal kata “kehilangan” semalam. Penjaga jatuh ke parit; sumpitnya hanyut. Jo tidak menghabisi; ia tidak menjadi binatang lain. Ia hanya meninggalkan batu di atas sumpit sebagai hukuman kecil untuk benda mati.
“Ke barat sedikit, lalu melingkar,” Marga memimpin lagi. Mereka bergerak menggunting hutan, mengambil jalur yang hanya masuk akal untuk orang yang terbiasa membayangkan peta di kepala. Anya mengatur napas satu-dua, satu-dua—menyimpan satu di pojok paru-paru kalau-kalau harus meniup lagi. Tabung bambu ia peluk seperti anak kecil memeluk botol.
Mereka mencapai kaki bukit lain. Di puncak, tampak tiang pendek dengan sesuatu yang menggantung—bukan gong. Lonceng kecil dari gigi hewan dan potongan logam, banyak, seperti tirai. Angin menggeser, pelan, bunyinya nyaris tidak terdengar. Marga menyipit. “Ini rambu.”
“Kalau lewat, bunyi,” Anya menangkap. “Pemanggil pemburu.”
“Kita tidak lewat,” kata Jo, menatap sela—celah kecil di bawah akar. “Kita merayap.”
Mereka tengkurap, mendorong tubuh lewat celah akar. Gigi lonceng menyentuh rambut Anya—dangkal, tidak berbunyi. Marga menahan napas sampai tulang rusuknya protes, Jo mengendus bau tanah seperti anjing yang lupa jadi manusia. Mereka lolos ke sisi lain, berdiri lagi. Dua detik hening untuk memberi tubuh haknya—lalu jalan lagi.
Di ujung jalur, hutan membuka ke lapangan kecil. Di tengah lapangan, berdiri menhir batu setinggi dua orang, berlubang di tengah—seperti jangkar untuk langit. Di salah satu sisi menhir, terpasang tali kulit yang masuk ke dalam lubang dan keluar di sisi lain, diikat ke gong kecil yang tergantung rendah. Di dasar menhir, diukir simbol… lingkaran-segitiga-garis miring ganda—tiga bentuk yang berasal dari topeng kemarin. Ini pintu terakhir, kata sesuatu di tulang belakang Anya.
Marga membaca cepat: tali yang sama menyambung tiga arah—kalau satu ditarik, yang lain longgar. “Kita harus ring tiga kali dalam satu tarikan—satu napas memanjang,” gumamnya. “Satu orang menarik, dua menahan—begitu seterusnya. Kalau putus ritme, itu memanggil pemburu.”
Jo sudah berdiri di sisi segitiga, tangannya pada tali. Anya di sisi lingkaran. Marga di garis miring ganda. Mereka saling pandang. Di wajah masing-masing, ada rasa takut yang paham bahwa takut adalah harga tiket.
“Siap?” tanya Marga.
Jo mengangguk. Anya menarik napas paling dalam hari itu. “Satu…” Marga mulai. “Dua… Tarik!”
Mereka menarik bersamaan—tali menyanyi rendah. Lonceng di dalam menhir berbunyi ting pertama—Anya mengeluarkan udara sedikit. “Tahan—gantian—tarik,” Marga mengatur. Jo mengambil alih tarikan kedua, napasnya mengalir lewat gigi. Ting kedua. Tali berpindah ke sisi Marga—tarikan ketiga—ting ketiga.
Hening sejenak. Hutan menahan telinga. Lalu—klik kecil di dasar menhir. Batu bergeser, membuka rongga sebesar pintu kecil. Di dalamnya gelap, tapi ada angin yang berbeda: bukan bau kamp, bukan bau hutan. Bau tanah baru. Marga ingin tertawa—nada yang hampir tidak ia kenal dari dirinya.
“Masuk,” kata Jo, tidak sabar menunggu tubuh menebak.
Anya melangkah paling dulu, menunduk, menyelinap. Koridor rendah membawa mereka menurun. Di titik tertentu, tanah berubah tekstur—lebih keras, seperti lantai kayu tua. Dinding melebar. Cahaya rembes dari celah-celah memberi tahu mereka bahwa mereka berada… di bawah sesuatu yang berongga.
“Pendopo lagi?” Anya berbisik.
“Bukan,” sahut Marga. Ia menyentuhkan telapak ke dinding; merasakan jarak pukulan gong—gemanya tidak sama. “Ini dekat altar.”
Mereka berhenti ketika koridor berakhir di sebuah pintu kisi. Di baliknya: ruangan kecil dengan dinding tanah, lantai bambu, dan di sudut… tumpukan kain compang-camping. Anya merunduk, meraih ujung kain itu. Pita biru tipis di kerah. Kancing yang hilang. Pak Damar, pikirnya, dan sesuatu bergetar di titik paling tua dari dirinya.
Jo memalingkan wajah sesaat—bukan karena takut, melainkan karena marah yang tidak punya sasaran. Marga menyapu pandang—di atas tumpukan kain, ada kaleng kecil—logam tipis dengan tutup. Ia membukanya. Di dalam: serpih arang dan bubuk merah—pewarna. “Ini ruang persiapan,” katanya pelan. “Untuk topeng. Untuk… upacara.”
Anya mengembus napas panjang yang tidak membawa tenang. “Kita keluar lewat mana?”
Marga menilai kisi. Kuncinya dari besi kecil. “Bisa dibuka dengan cincin kemarin. Tapi cincin kita… di atas.” Ia mencari lain. “Atau kita sobek bambunya.”
Jo menghampiri, memasukkan jari ke sela bambu—menarik. Bambu merengek. Dua helai lepas. Mereka susup satu-satu, keluar ke bagian belakang altar—tempat yang kemarin terlalu terang untuk didekati. Sekarang, tengah hari membuat bayangan pendek, namun sisi belakang altar terlindungi oleh tenda kain lusuh. Dari sela kain, mereka bisa melihat lapangan utama: penjaga berkeliaran malas, anak-anak—yang tersisa—duduk di kandang lain, menatap tanah. Helen tidak terlihat. Yosi tidak terlihat. Nama-nama itu kembali menjadi batu di kerongkongan.
“Ini kesempatan,” kata Jo, matanya liar mencari celah lebih besar. “Kita lari sekarang.”
“Ke mana?” Marga menahan, tapi tidak mematahkan api. “Lari butuh tujuan.”
Anya menatap dua jalan: kembalikan diri ke kandang dan hidup satu hari lagi, atau tanggalkan semua kemungkinan terukur. Tali merah di pergelangan terasa lebih berat. “Aku….” katanya, lalu berhenti. Ada suara dari arah tenda lain—seruling tulang yang bermain nada rendah. Nada itu baru. Nada yang berarti berkumpul.
Pemimpin suku muncul di lapangan, diikuti pembawa baki—topeng. Di atasnya, empat topeng: lingkaran, segitiga, spiral, garis miring ganda. Spiral—talinya putus. Pemimpin mengangkat topeng lingkaran tinggi-tinggi. Matanya menyapu lapangan, lalu berputar sedikit—seakan sedang mencari satu wajah.
Anya merasa dingin naik dari telapak kaki. Lingkaran. Ia menyentuh topengnya sendiri yang kemarin sudah ditarik. Mereka memilih yang bernapas paling lama hari ini, pikir Anya tanpa bukti apa pun selain logika liar tempat ini.
Penjaga bergerak menuju kandang mereka. Jalan di belakang altar tidak akan selamanya kosong. Marga menarik lengan Anya. “Kita kembali. Sekarang. Kita kumpulkan napas untuk besok.”
Besok. Kata yang sudah mereka sepakati untuk bertahan. Anya mengangguk—ragu—mengangguk lagi. Mereka menyelinap kembali ke koridor sempit, menyusur jalan keluar menhir, berusaha muncul di hutan dari sisi yang tidak dilihat penjaga. Namun ketika mereka sampai di bibir lapangan kecil, mereka bertemu barisan—dua penjaga dari arah yang salah, menyilang langkah di depan semak.
Jo mendahului—menerjang dengan kepala, menghajar dada satu penjaga. Penjaga lain mengangkat sumpit; Anya tanpa pikir meraih batu dari tanah dan melempar—memukul pergelangan tangan penjaga. Panah meleset, menancap pohon. Marga menendang belakang lutut penjaga, menjatuhkan. Untuk dua detik, dunia tunduk pada mereka.
Di detik ketiga, tiang dari belakang menghantam bahu Jo. Ia merosot, lalu bangkit lagi seperti pegas. Dua penjaga lain berlari dari kiri. Lahan menjadi angka. Kalah. Mereka ditarik, dipuntir; pergelangan diikat ulang. Marga tak berteriak; Anya hampir. Jo tidak mengumpat—kali ini suaranya hilang.
Mereka digiring bukan ke kandang, melainkan ke bibir altar. Pemimpin mengangkat topeng lingkaran dan segitiga. Sorak tidak besar; sorak kamp tidak pernah perlu besar. Anya dipaksa berlutut di sisi kiri altar, Jo di sisi kanan. Marga di belakang garis. Nafas Anya menjadi binatang kecil yang kesasar—berlari bolak-balik tak tentu di dalam sangkar rusuk.
Pemimpin mengangkat pisau batu—matahari memantul di tepinya. Dalam tampilan itu, Anya melihat air di halaman rumahnya, pohon jambu, suara Hendro: pulang adalah pilihan. Ia menoleh ke Marga—satu detik—dan tersenyum kecil: senyum orang yang memilih.
“Ambil aku,” katanya pelan—tidak tahu apakah pemimpin mengerti. “Biar mereka pulang.” Kalimatnya nyaris tidak keluar utuh, tapi Marga mengerti. Mata Marga memerintah seluruh tubuhnya untuk tidak pecah. Ia mengangguk sekali—kecil, kuat—mengunci air mata di tempat yang tidak bisa dilihat siapa pun.
Jo mengguncang tali, suaranya pecah baru, “Jangan—” setengah makian, setengah permohonan.
Anya memejamkan mata—bukan karena takut pada pisau, tapi karena ingin menyimpan wajah-wajahnya di tempat yang tidak bisa dijangkau apa pun di kamp ini: Vino dengan setengah senyum bosan; Arya yang memaki sambil tertawa; Bimo yang menyebut “bro” seperti doa bodoh; Tansil yang selalu memegang saku Jo; Hendro yang tidak perlu bicara untuk membuat kata “besok” terasa mungkin; Marga—Marga, yang sedang menahan dunia agar tidak jatuh.
Pisau batu turun—tapi berhenti satu jari dari kulit.
Pemimpin menoleh—mendengarkan sesuatu yang datang dari kiri: seruling tulang yang memainkan nada pendek khas. Seseorang berlari, berbisik cepat di telinganya. Pemimpin menatap topeng spiral—yang talinya putus—sekali lagi. Matanya mengeras. Ia menurunkan pisau—bukan untuk menyerah—melainkan untuk mengubah panggung.
Anya diseret bukan ke tiang, melainkan ke pintu kecil di sisi altar—pintu yang kemarin tidak mereka lihat. Jo meraung, Marga maju setengah langkah—tombak menahan. Pintu dibuka. Gelap menunggu, dingin seperti lidah malam. Anya sempat menoleh—satu detik—menatap Marga. Tak ada pidato. Hanya bibir yang mengucap tanpa suara: besok.
Pintu menutup, menelan Anya.
Lapangan kembali bernapas. Para penjaga membawa Jo ke kandang, menyeret Marga bersama, meninggalkan altar seperti panggung setelah bintang utamanya diganti adegan.
Di kandang, Jo duduk dengan tangan tertaut di belakang kepala—bukan gaya santai; gaya orang yang menahan bumi agar tidak memantul terlalu keras. Marga berdiri tegak, punggung ke jeruji, menempel dingin ke kulit. Otot pipinya gemetar tipis, satu-satunya bagian tubuh yang berani bocor.
“Dia… tidak—” Jo kehabisan kata.
“Anya memilih,” jawab Marga. Kalimat itu bukan penghiburan. Itu martabat.
Sunyi merambat. Dari altar, sekali, gong dipukul—pendek, bernada tinggi. Penanda babak.
Malam belum datang, tapi hari sudah kehabisan suaranya. Di tempat yang kosong—di mana tadi ada seseorang yang duduk dengan lutut memeluk dada—ada bau pewarna merah yang tersisa di udara. Pita di pergelangan Marga mengetat sendiri, entah karena simpul, entah karena hal lain.
Marga menutup mata, menarik napas dalam—sekali, hanya satu. Dalam bayangannya, ada senyum kecil yang tadi ia simpan. Ia meletakkan senyum itu di saku dalam, di samping peta yang belum lengkap, di samping kata yang tetap keras kepala: besok.
Di luar, hutan mengangkat bahu. Kamp mendengkur pendek. Dan di balik pintu kecil altar, sesuatu terjadi yang tidak ada saksi—tidak ada yang tahu apakah itu yang menyelamatkan atau menghancurkan. Untuk sekarang, yang mereka punya hanyalah ruang antara detak satu dengan detak berikutnya—ruang sempit yang masih bisa diisi oleh orang-orang yang belum menyerah.
Selesai membaca Episode 8: Lonceng Satu Nafas